Laman

Kamis, 19 Februari 2015

DI ANTARA KALI PROGO DAN KALI OPAK (SARI BUKU)


Catatan ini berisi tentang beberapa quote yang saya kutip dari buku yang selesai saya baca.


Ceritanya, secara tidak sengaja saat di perpus sekolah saya menuju rak yang berisi buku-buku yang hampir mayoritas sampulnya rusak, mereka buku-buku lama yang juga sudah lama tidak tersentuh. Saya asal saja mengambil satu buku, dan ternyata bukunya berjudul DI ANTARA KALI PROGO DAN KALI OPAK (Legenda Berdirinya Kota Yogyakarta) karya Krishna Mihardja, dan saya membacanya begitu saja.

Berikut qoute yang saya suka dan kemudian saya kutip:

"Terhadap sesuatu yang sudah terjadi, kiranya kita lebih baik menjauhkan rasa kecewa," ucap Ki Juru Mertani pelan kepada Danang Sutawijaya. (Hal. 22)

Pangeran Benowo tergagap memperoleh pertanyaan yang tidak disangkanya tersebut. Sekali seseorang berbohong, maka dia harus berbohong lagi untuk menutupi kebohongan pertama, kemudian akan berbohong lagi untuk menutupi kebohongan yang terlanjur dibuat. Kebohongan adalah sebuah mata rantai, akan terulur terus tanpa henti. Sekali seseorang berbohong, maka dia akan terlibat oleh kebohongannya sendiri. (Hal. 45)

"Dimas! Mempercayai sebuah kabar adalah sesuatu yang tidak bisa disalahkan karena semua kejadian tidak mungkin kita amati sendiri, tetapi tidak mempercayai kadang-kadang akan lebih baik."
Percakapan Danang Sutawijaya kepada adiknya Pangeran Benowo. (Hal. 48)

Ketertiban dan kesadaran terhadap lingkungan kehidupannya, membuat warga mendapat imbalan kemakmuran dari alam dan buminya. (Hal. 49)

"Terlarut dalam kesedihan hingga melupakan pentingnya waktu, tak urung semua yang diangankan selama ini akan musnah."
Percakapan antara Ki Juru Mertani dengan Danang Sutawijaya setelah kematian Sultan Hadiwijaya. (Hal. 140)

"Bumi mataram ini akan makmur dan sejahtera, menemukan zaman kejayaan jika nanti air Kali Progo bersatu dengan air Kali Opak."
Ungkapan Ki Ageng Karanglo mengingat ramalan dari kanjeng Sunan Kalijogo. (Hal. 144)

Di desa Karangtalun, Ngluwar, Magelang, dipotonglah aliran Kali Progo dan dialirkan ke arah timur. (Hal. 191)

Selokan itu memanjang sampai di Randugunting Kecamatan Kalasan, tepatnya di sebelah selatan Candi Prambanan atau di sebelah barat petilasan Candi Kraton Boko. Di tempat itulah aliran selokan masuk ke sebuah sungai yang melintas di sebelah barat Candi Prambanan, yakni Kali Opak. (Hal. 192)

Legenda telah bercerita dan sejarah telah memberi kenyataan. Yogyakarta adalah Ngayogyakarta Hadiningrat, adalah Bumi Mataram, adalah hutan Mentaok, yang jadi pusat pemerintahan kasultanan. Pernah menjadi ibu kota, pusat pemerintahan negara kesatuan Republik Indonesia, adalah tanah subur yang teraliri Selokan Mataram, yang memanjang di daerah Sleman.
Yogyakarta sebagai bentuk pemerintahan yang berpusat di daerah antara dia aliran sungai, yaitu Kali Progo dan Kali Opak. (Hal. 194)

2 komentar: